Muslim telah mengeluarkan dari Abu Mas'ud Al-Anshari ra. dia berkata:
Sekali peristiwa telah datang kepada Nabi SAW seorang lelaki menarik
seekor unta yang terikat tali di hidungnya, Ialu menyerahkannya kepada
beliau, katanya: Ini untuk sabilillah! Maka berkata Rasulullah SAW:
Gantinya nanti di hari kiamat 700 ekor unta semuanya dengan bertali di
hidungnya. (Shahih Muslim 2:37; jam'ul Fawa'id 2:3)
Imam Ahmad
telah mengeluarkan dari Abdullah bin As-Shamit, dia berkata: Pernah pada
suatu peristiwa, aku berjihad bersama-sama Abu Dzar ra. Maka setelah
dibagi-bagi ghanimah, yakni rampasan perang, dia mendapat bagiannya
termasuk seorang jariah. Lalu dia pun membeli segala keperluannya, dan
masih ada lagi banyak yang tersisa. Lalu dia menyuruh jariah tadi
menukarkannya dengan mata uang untuk dibagi-bagikan kepada semua orang
yang memerlukannya. Aku berkata kepada Abu Dzar: Biarlah jariah itu
menahan dulu uang itu untuk keperluan di lain hari, ataupun mana tahu
jika datang tamu, maka engkau tentu memerlukannya?! Abu Dzar menjawab:
Temanku, yakni Rasulullah SAW sudah membuat perjanjian kepadaku, bahwa
apa saja emas atau perak yang disimpan, maka itu sama dengan gumpalan
api neraka disimpan oleh tuannya, sehinggalah diberikan kesemuanya pada
jalan Allah azzawajalla. Dalam riwayat Ahmad dan Thabarani yang lain,
bahwa siapa yang menyimpan emas atau perak, dan tidak diinfakkannya pada
jalan Allah akan menjadi gumpalan-gumpalan api kelak di hari kiamat,
dan akan disetrikakan tuannya dengan gumpalan-gumpalan api itu.
(At-Targhib Wat-Tarhib 2:178)
Thabarani
telah mengeluarkan di dalam kitabnya 'Al-Awsath' dari Qais bin Salk
Al-Anshari ra. bahwa saudara-saudaranya telah mengadukan halnya kepada
Rasulullah SAW Mereka berkata: Saudara kami Qais suka membuang-buang
hartanya, dan terlalu mewah sekali dalam berinfak lalu Qais datang
kepada Rasulullah SAW: wahai Rasulullah! Aku mengambil bagianku dari
korma dan berinfak untuk orang-orang yang keluar berjihad fi sabilillah,
dan kepada siapa yang mengikutiku. Mendengar itu, Rasulullah SAW pun
menepuk dadanya seraya berkata: Infakkanlah harta di jalan Allah,
niscaya Allah akan menginfakkan gantinya - disebutkan sampai tiga kali.
Pada lain waktu, aku keluar berjihad fi sabilillah dan aku sudah
mempunyai kendaraan sendiri, dan aku orang yang paling banyak harta dan
yang terkaya di antara kaum keluargaku pada hari ini.
(At-Targhib Wat-Tarhib 2:172)
Thabarani
telah mengeluarkan berita dari Mu'az bin Jabal ra. dia berkata:
Rasulullah SAW telah bersabda: Sangat beruntung orang yang
memperbanyakkan zikir kepada Allah ketika sedang berjihad fi sabilillah,
kerana baginya buat setiap kalimah tujuh puluh ribu hasanah, setiap
hasanah darinya sama dengan sepuluh kali ganda apa yang ada di sisinya
dari tambahannya. Para sahabat bertanya pula: Bagaimana pula dengan
menginfakkan harta fi sabilillah, ya Rasulullah! jawab beliau:
Menginfakkan harta sama kadarnya dengan yang demikian. Berkata Abdul
Rahman: Maka aku bertanya kepada Mu'az r.a: Bukankah menginfakkan harta
fi sabilillah itu diberikan pahalanya dengan 700 kali lipat? Jawab
Mu'az: Barangkali engkau kurang faham tentang maksudnya. Dia itu apabila
mereka menginfakkannya sedang mereka menetap dengan kaum keluarga
mereka tidak ikut bersama-sama berperang. Tetapi jika mereka turut serta
berperang dan menginfakkan hartanya pada jalan Allah, maka Allah akan
menyimpan buat mereka dari khazanah (perbendaharaan) rahmatnya apa yang
sampai tidak terlintas dari ilmu manusia dan sifatnya, mereka itulah
partai Allah, dan partai Allah selalu jaya dan menang.
(Majma'uz Zawa'id 5:282)
Al-Qazwini
telah mengeluarkan berita dari seorang yang tidak terkenal dan
beritanya mursal kepada Nabi SAW dari Al-Hasan, dari Ahmad, Abu Dardak,
Abu Hurairah, Abu Umamah Abdullah bin Amru,jabir dan lmran bin
Hushain-radhiallahu-anhum marfuk kepada Nabi SAW bahwa beliau telah
berkata: Barangsiapa yang mengeluarkan hartanya fi sabilillah, dan dia
duduk di rumahnya, maka baginya pahala bagi setiap dirham 700 dirham.
Dan barangsiapa berperang serta bernafkah sekaligus fi sabilillah, maka
baginya buat setiap dirham 700,000 dirham. Kemudian beliau membaca
firman ini yang bermaksud: Dan Allah menggandakan pahalanya kepada siapa
yang disukainya.
Abu Daud, lbnu Hibban telah meriwayatkan dari
Abu Hurairah ra. bahwa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW Ada
seorang yang ingin berjihad, tetapi niatnya hendakkan harta dunia,
bagaimana? Jawab beliau: Tidak ada pahala sama sekali! Ramai orang
memandang berat jawaban beliau itu, Ialu mereka kembali kepada orang
yang bertanya itu seraya memintanya bertanya sekali lagi, barangkaii dia
salah dengar jawabannya, ataupun dia tidak faham maksud dari jawaban
beliau itu. Maka orang itu kembali lagi kepada Rasulullah SAW Ialu
bertanya: Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan orang yang berjihad fl
sabilillah, padahal niatnya hendakkan dunia? jawab beliau masih sama:
Tidak ada pahalanya sama sekali! Mendengar jawaban yang kedua, orang
ramai masih belum puas hati, lalu memintanya supaya bertanya untuk
terakhir kalinya. Maka jawaban beliau masih tetap itu juga, yakni tidak
ada pahalanya sama sekali.
(At-Targhib Wat-Tarhib 2:419)
Abu
Daud dan Nasa'i meriwayatkan dari Abu Umamah ra. dia berkata: Telah
datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW lalu bertanya: Apa katamu
terhadap seorang lelaki yang berjihad fi sabilillah kerana inginkan
pahala dan pujian, bagaimana keadaannya? Jawab beliau: Sia-sia saja
jihadnya. Orang itu mengulangi lagi sampai tiga kali, dan setiap kali
ditanya, tetap dijawab oleh beliau: Sia-sia saja jihadnya, kerana Allah
tiada akan menerima sesuatu amal melainkan yang dibuat dengan penuh
ikhlas kepadanya, dan mengharapkan keridhaannya! (At-Targhib Wat-Tarhib
2:421)
Kezuhudan Abu BakarAhmad mengeluarkan dari Aisyah r.ha, dia berkata,
"Abu Bakar meninggal dunia tanpa meninggalkan satu dinar maupun satu
dirham pun. Sebelum itu dia masih memilikinya, namun kemudian dia
mengambilnya dan menyerahkannya ke Baitul-mal." Begitulah yang
disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3/132.
Kezuhudan Umar bin Al-Khaththab
Ahmad
mengeluarkan di dalam Az-Zuhud, Ibnu Jarir dan Abu Nu'aim dari
Al-Hasan, dia berkata, "Ketika Umar bin Al-Khaththab sudah menjadi
khalifah, di kain mantelnya ada dua belas tambalan. Begitulah yang
disebutkan di dalam Al-Kanzu, 4/405.
Kezuhudan Utsman bin Affan
Abu
Nu'aiin mengeluarkan di dalam Al-Hilyah, 1/60, dari Abdul-Malik bin
Syaddad, dia berkata, "Aku pernah melihat Utsman bin Affan berkhutbab di
atas mimbar pada hari Jum'at, sambil mengenakan kain mantel yang tebal
(kasar), harganya berkisar empat atau lima dirham. Kain ikat kepalanya
juga ada yang robek. Diriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata, "Aku
pernah melihat Utsman bin Affan yang datang ke masjid dalam keadaan
seperti itu, pada saat dia sudah menjadi khalifah." Ahmad mengeluarkan
di dalam Shifatush-Shafwah, 1/116.
Kezuhudan Ali Bin Abu Thalib
Ahmad
mengeluarkan dari Abdullah bin Ruzain, dia berkata, "Aku pernah masuk
ke rumah Ali bin Abu Thalib pada hari Idul-Adhha. Dia menyuguhkan daging
angsa kepadaku. Aku berkata, "Semoga Allah mlimpahkan kebaikan
kepadamu. Karena engkau bisa menyuguhkan makanan ini, berarti Allah
memang telah melimpahkan kebaikan kepadamu, " Dia berkata, "Wahai Ibnu
Ruzain, aku pernah mendengar Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, 'Tidak diperkenankan harta Allah bagi seorang khalifah kecuali
sebanyak dua takaran saja, satu takaran yang dia makan bersama
keluarganya, dan satu takaran lagi yang harus dia berikan kepada
orang-orang." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 8/3.
Kezuhudan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah
Abu
Nu'airn mengeluarkan dari Abu Ma'mar, bahwa tatkala Umar mengadakan
lawatan ke Syam, maka disambut para pemuka dan pemimpin masyarakat di
sana. "Mana saudaraku?" tanya Umar. "Siapa yang engkau maksudkan?' tanya
orang-orang. "Abu Ubaidah. " "Sekarang dia baru menuju ke sini. Ketika
Abu Ubaidah sudah tiba, Umar turun dari kendaraannya lalu memeluknya.
Kemudian Umar masuk ke rumah Abu Ubaidah dan tidak melihat perkakas apa
pun kecuali pedang, perisai dan kudanya. Ahmad mengeluarkan hadits yang
serupa seperti yang disebutkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/143.
Ibnul-Mubarak juga meriwayatkannya di dalam Az-Zuhd, dari jalan Ma'mar,
serupa dengan ini, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/253.
Kezuhudan Mush'ab bin Umair
Al-Bukhary
mengeluarkan di dalam Shahih-nya, dari Hibban, bahwa Mush'ab bin Umair
meninggal dan hanya meninggalkan selembar kain. Jika orang-orang
menutupkan kain itu ke kepalanya, maka kedua kakinya menyembul, dan jika
ditutupkan ke kedua kakinya, maka kepalanya yang menyembul. Lalu
Rasulullah SAW bersabda, "tutupkan dedaunan ke bagian kakinya."
Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 3/421.
Kezuhudan Salman Al-Farisy
Abu
Nu'aim mengeluarkan dari Athiyah bin Amir, dia berkata, "Aku pernah
melihat Salman Al-Farisy ra. menolak makanan yang disuguhkan kepadanya,
lalu dia berkata, "Tidak, tldak. Karena aku pemah mendengar Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
'Sesungguhnya orang yang lebih
sering kenyang di dunia akan lebih lama laparnya di akhirat. Wahai
Salman, dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin dan surga orang kafir'.
Di
dalam Al-Hilyah, 1/198, Bagian terakhir dari hadits di atas, "Dunia ini
hanyalah penjara orang Mukmin", merupakan riwayat Muslim.
Kezuhudan Abu Dzarr Al-Ghifary
Ahmad
mengeluarkan dari Abu Asma', bahwa dia pernah masuk ke rumah Abu Dzarr
di Rabadzah. Dia mempunyai seorang istri berkulit hitam yang sama sekali
tidak memakai hiasan macam apa pun dan tidak pula mengenakan minyak
wangi. Abu Dzarr berkata, "Apakah kalian tidak rnelihat apa yang disuruh
para wanita berkulit hitam ini? Mereka menyuruhku unluk pergi ke Irak.
Namun ketika kami tiba di Irak, mereka justru lebih senang kepada dunia.
Padahal kekasihku (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam)
memberitahukan kepadaku bahwa di atas jembatan neraka ada rintangan dan
halangannya. Kita akan menyeberangi jembatan itu sambil membawa beban
kita. Maka lebih baik bagiku untuk menyeberang dengan selamat tanpa
mernbawa beban apa pun." Begitulah yang disebutkan di dalain At-Targhib
Wat-Tarhib, 3/93. Ahmad juga meriwayatkannya dan rawi-rawinya shahih.
Kezuhudan Abud-Darda'
Ath-Thabrany
mengeluarkan dari Abud-Darda' Radhiyallahu Anhu, dia berkata, 'Dahulu
sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi rasul, kami adalah
para pedagang. Namun setelah beliau diutus sebagai rasul, aku ingin
terjun kembali dalam perniagaan dan sekaligus rajin beribadah. Tapi
nyatanya aku tidak bisa mantap dalam ibadah. Akhirnya kutinggalkan
perniagaan dan mengkhususkan diri dalam ibadah.' Menurut Al-Haitsainy,
9/367, rijalnya shahih.
Kezuhudan Al-Lajlaj Al-Ghathafany
Ath-Thabrany
mengeluarkan dengan isnad yang tidak diragukan, dari Al-Lajlaj
Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Sejak aku masuk Islam di hadapan
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku tidak pernah makan dan
minum kecuali sekedar secukupnya." Begitulah yang disebutkan di dalarn
At-Targhib, 31423. Abul-Abbas As-Siraj di dalam Tarikh-nya dan
Al-Khathib di dalam Al-Muttafaq, seperti yang disebutkan di dalam
Al-Ishabah, 2/328.
Kezuhudan Abdullah bin Umar
Abul-Abbas
As-Siraj mengeluarkan di dalam Tarikh-nya dengan sanad hasan, dari
As-Sary, dia berkata, "Aku pernah melihat sekumpulan orang dari kalangan
shahabat, bahwa tak seorang pun di antara mereka yang keadaannya
senantiasa mirip dengan keadaan Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam
selain dari Ibnu Umar. "Abu Sa'id Al-Mraby mengeluarkan dengan sanad
yang shahih, dari Jabir ra., dia berkata, 'Tidak ada seseorang di antara
kami yang mendapatkan kekayaan dunia melainkan dia justru
meninggalkannya selain dari Abdullah bin Umar.' Begitulah yang
disebutkan di dalam Al-Ishabah, 21347.
Setelah pembebasan kota Mekah sebuah berita sampai kepada Nabi saw.
bahwa kabilah Hawazin dan Tsaqif telah berkumpul di lembah Hunain untuk
memerangi kaum Muslimin. Nabi lalu memerintahkan pasukannya untuk
bersiap-siap menghadapi mereka pada bulan Syawal tahun 8 H.
Jumlah
pasukan Muslimin sebanyak dua belas ribu orang tentara, setelah
mendapat tambahan dari penduduk Mekah yang bergabung. Selanjutnya,
pasukan itu bertolak menuju lembah Hunain. Sesampainya di sana mereka
dikejutkan oleh pasukan Hawazin dan Tsaqif yang berada di lembah-lembah
dan gunung-gunung. Hampir saja mereka dapat mengalahkan pasukan
Muslimin. Sebagian pasukan Muslimin lari karena keterkejutan itu. Hanya
sedikit, sekitar sepuluh orang saja, yang menetap bersama Nabi. Dengan
suara tinggi Nabi berseru kepada kaum Muslimin, “Aku Nabi, bukan
kebohongan, aku putra Abdul Muthallib.” Melihat keteguhan dan keberanian
Nabi, kaum Muslimin kembali menyatu di belakang Nabi.
Mereka
kemudian melancarkan serangan dahsyat dan berakhir dengan kemenangan.
Berhasil membunuh tentara musuh dalam jumlah besar, menawan sekitar enam
ribu orang, dan mendapatkan banyak harta rampasan.
Perlu kita
catat bahwa sebab kekalahan yang hampir menimpa kaum Muslimin adalah
kesilauan mereka terhadap jumlah mereka yang banyak. Mereka mengatakan,
“Pada hari ini kita tidak mungkin dikalahkan oleh pasukan yang sedikit.”
Maka Allah hendak memberikan pelajaran kepada mereka bahwa jumlah yang
banyak saja belum cukup, tetapi harus ada pertolongan Allah.
Diriwayatkan
oleh Sa'id bin Janadah ra, ia berkata, "Tatkala Rasulullah saw serta
para sahabat kembali dari peperangan Hunain, kami singgah di satu padang
tandus." Lalu Nabi saw berkata, "Kumpulkanlah oleh kalian apa saja.
Barangsiapa di antara kalian mendapatkan sesuatu, bawalah kemari.
Barangsiapa menemukan tulang atau gigi, bawalah kemari." Said
melanjutkan, "Dalam watu sekejap kami telah berhasil mengumpulkan
setumpukan besar benda-benda.
Kemudian Nabi saw bersabda,
"Tidaklah kalian lihat benda-benda ini? Begitu juga halnya dosa-dosa
yang berkumpul pada salah seorang kalian. Seperti apa yang telah kalian
kumpulkan ini. Karena itu, hendaklah orang takut kepada Allah, janganlah
ia berbuat dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, karena semuanya
akan dihitung!"
Majalah Islam & EraMuslim
Dikeluarkan oleh At-Thabarani dan Abu Ya'la dari Abu Funail dari
Mu'awiyah bin Abu Sufyan radhiallaahu 'anhu, dimana Mu'awiyah ra. telah
menaiki mimbar pada hari Qimamah dan berkata dalam khutbahnya,
"Sesungguhnya harta rampasan adalah harta kami dan terserah kepada kami
untuk membagi-bagikannya. Barangsiapa yang kami kehendaki, kami akan
memberikan kepadanya dan barangsiapa yang tidak kami kehendaki kami
tahan dari membagikannya". Tidak ada seorangpun yang menjawab
kata-katanya itu. Pada hari Jum'at yang berikutnya beliau berkata-kata
dengan perkara yang sama sehingga lah hari Jum'at yang ketiga di mana
beliau juga berkhutbah dengan perkara yang sama.
Maka seorang
lelaki yang hadir di dalam Masjid itu telah berkata kepadanya, "Tidak
sekali-kali, sesungguhnya harta tersebut adalah milik kami semua (dan
harus dibagi-bagikan dengan adil). Barangsiapa yang menghalang kami dari
harta tersebut kami akan berhukum kepada hukum Allah dengan
pedang-pedang kami". Lalu Mu'awiyah ra. pun turun dari mimbar dan
mengutus seseorang untuk memanggil lelaki itu.
Orang-orang (Muslimin) pun berkata, "Binasahlah lelaki itu".
Kemudian
kaum muslimin pun masuk menemui Mu'awiyah ra. di dalam rumahnya dan
mendapati lelaki itu sedang duduk di atas tempat tidur. Maka berkatalah
Mu'awiyah ra. kepada orang ramai, 'Lelaki itu telah menyinari rohaniku
pada hari ini, maka Allah akan menyinari jiwanya juga, aku telah
mendengar Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallaam bersabda,
"Akan terjadi setelahku seorang Amir akan berkata-kata dengan
sesuatu yang bertentangan dengan syari'ah dan tiada seorangpun yang
menentangnya. Dengan itu mereka akan dilemparkan ke dalam neraka
sebagaimana monyet memasuki neraka (berlompatan karena epanasan)".
Aku
telah berkhutbah kepada kamu pada hari Jum'at yang pertama, maka tidak
ada seorangpun dari kamu yang bangun menentangku, lalu aku takut
sekiranya aku menjadi golongan amir tersebut. Kemudian aku sekali lagi
berkhutbah dengan perkara yang sama pada hari Jum'at yang kedua, maka
tidak ada seorangpun yang membangkangi aku. Akupun berkata kepada diriku
sendiri, "Sesungguhnya aku termasuk ke dalam golongan amir tersebut".
Kemudian sekali lagi aku berkhutbah dengan perkara yang sama pada hari
Jum'at ketiga, maka lelaki ini telah bangun dan membantahi aku. Maka dia
telah menghidupkan aku, lalu Allah akan menghidupkannya'.
Kata
Al-Haitsami, ianya telah diriwayatkan oleh At-Thabarani di dalam kitab
Al-Kabir, Al-Ausad. Abu Ya'la dan perawi-perawinya adalah kukuh.
Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallam biasa mengirim surat kepada
para raja untuk berdakwah dan bertabligh kepada mereka. Salah satu surat
beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan
kepada Raja Bushra. Ketika sampai di Mautah, maka Syarahbil Ghassani
yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan
Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah
suatu kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu.
Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid
bin Haritsah ra. telah dipilih menjadi peniimpin pasukan tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, "Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka
Ja'far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia
juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin
Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk
memilih siapa pemimpinnya".
Seorang Yahudi, ketika mendengar
perkataan ini berkata, "Ketiga orang sahabat yang telah ditunjuk sebagai
amir tersebut pasti akan mati. Anbiya AS. pun, dahulu telah mengucapkan
kata-kata yang demikian". Kemudian Rasulullah SAW memberikan bendera
berwarna putih epada Zaid bin Haritsah ra. Beliau sendiri ikut mengantar
rombongan untuk melepas mereka. Di luar kota, ketika orang-orang yang
mengantarkan pasukan tersebut akan kembali, maka beliau berdoa untuk
para mujahidin ini dengan doa keselamatan, kejayaan, dan agar mereka
dijauhkan dari semua perkara yang buruk sampai mereka kembali.
Do'a Rasulullah SAW ini dijawab oleh Abdullah bin Rawahah ra. dengan membaca tiga bait syair yang maksudnya:
Engkau meminta ampunan dari Tuhanmu.
Sedangkan kami menginginkan pedang yang akan memutuskan
pembuluh-pembuluh darah atau tombak yang akan menusuk lambung dan hatiku
Jika nanti, orang-orang melewati kuburan kami, mereka akan berkata:
Inilah orang-orang yang telah berjuang untuk Allah. Sungguh, kalian betul-betul telah mendapat petunjuk dan kejayaan
Setelah
itu, berangkatlah pasukan tersebut. Syarahbil pun telah mendengar
tentang keberangkatan pasukan ini. Dia telah menyiapkan pasukan sebanyak
seratus ribu tentara untuk melawan kaum muslimin. Dalam pada itu, para
sahabat r.ahum. juga telah mendengar kabar bahwa Heraclius, raja Romawi,
juga telah mengirim seratus ribu tentaranya untuk ikut menyerang kaum
muslimin. Maka dengan jumlah musuh yang demikian banyak tersebut membuat
sebagian sahabat ra. menjadi ragu: meneruskan bertempur melawan musuh,
ataukah memberitahukan kepada Rasulullah SAW. Abdullah bin Rawahah ra.
berkata,
"Hai orang-orang. Apa yang kalian takuti?
Untuk apa kalian keluar meninggalkan Romawiah kalian?
Apakah kalian keluar ini bukan untuk mati syahid?
Kami adalah orang-orang yang tidak memperhitungkan kekuatan ataupun banyaknya orang dalam pertempuran.
Kami hanya berperang agar di suatu hari nanti, Allah s.wt. memuliakan kita.
Majulah. Setidaknya salah satu di antara dua kemenangan mesti kita
dapatkan. Mati syahid, atau menang dalam pertempuran ini".
Mendengar
kata-kata tersebut, semangat kaum muslimin pun bangkit kembali. Mereka
terus maju sehingga sampailah pasukan tersebut di Mut'ah dan mulailah
pertempuran berlangsung antara mereka dengan pasukan musuh. Dalam
permulaan pertempuran, bendera dibawa oleh Zaid bin Haritsah ra. Dengan
bendera di tangan, ia telah menyerang ke tengah Pertempuran. Mulailah
berlangsung pertempuran. Ketika itu saudara Syarahbil telah terbunuh
sedangkan kawan-kawannya melarikan diri. Syarahbil sendiri telah lari ke
sebuah benteng dan bersembunyi di dalamnya. Kemudian Raja Heraclius
mengirimkan bala bantuan lagi kurang lebih sebanyak dua ratus ribu orang
tentara. Pertempuran berlangsung dengan begitu dahsyatnya. Akhirnya,
Zaid ra. gugur syahid. Maka bendera kaum Muslimin segera diambil oleh
Ja'far bin Abi Thalib ra., setelah itu ia memotong kaki kudanya agar
tidak berpikiran lagi untuk kembali. Sambil menyerang musuh, ia membaca
beberapa bait syair yang terjemahannya sebagai berikut:
Hai orang-orang, apakah tidak baik surga itu
Dan surga itu sudah dekat
Betapa indahnya ia
Dan betapa sejuknya air surga
Telah dekat masa siksa bagi raja Romawi
Dan saya mempunyai kewajiban untuk membunuhnya
Setelah
membaca syair tersebut, dipotonglah kaki kudanya dengan tangannya
sendiri. Agar hatinya tidak berpikir untuk kembali. la menghunus
pedangnya dan terjun ke tengah pertempuran melawan orang-orang kafir
tersebut. Karena ia adalah pimpinan pasukan, maka bendera itu tetap
berada di tangannya. Pada mulanya, bendera tersebut dipegang dengan
tangan kanannya. Tetapi salah seorang pasukan kafir telah memenggal
tangan kanannya sehingga bendera pun terjatuh. Maka bendera tersebut
segera diambil dengan tangan kirinya. Tetapi, orang kafir itu telah
memotong kembali tangan kirinya. Maka ia segera mendekap bendera itu di
dada dengan kedua lengannya yang masih tersisa dan digigitnya bendera
itu dengan sekuat tenaga. Kemudian, seorang musuh dari arah belakang
menebasnya dengan pedang sehingga tubuhnya terpotong menjadi dua. Ia pun
roboh ke tanah, dan gugur dalam keadaan syahid. Pada saat itu, Ja'far
bin Abi Thalib ra. baru beRomawiur tiga puluh tiga tahun.
Abdullah
bin Umar ra. berkata bahwa setelah Jafar ra. menjadi mayat, ketika
mayat tersebut diangkat, di bagian muka tubuhnya terdapat sembilan puluh
buah luka. Ketika Ja'far bin Abi Thalib ra. telah mati syahid, maka
orang-orang memanggil Abdullah bin Rawahah ra. Ketika itu, ia sedang
berada di sebuah sudut dengan beberapa tentara muslimin, sedang memakan
sepotong daging karena sudah tiga hari lamanya mereka tidak makan
sesuatu pun. Mendengar suara yang memanggilnya, maka dilemparkanlah sisa
daging itu. Ia berkata memarahi dirinya sendiri,
"Hai lihatlah, Ja'far telah syahid, sedangkan kamu masih sibuk dengan keduniaanmu".
Maka
ia segera maju menyerang ke depan dan mengambil bendera kaum muslimin.
Tetapi, jari tangannya telah terluka berlumuran darah dan terkulai
hampir putus. Kemudian jari itu diinjak dengan kakinya sendiri lalu
ditarik tangannya sehingga terpotonglah jarinya tersebut. Kemudian, jari
yang sudah terputus itu ia lemparkan, kemudian ia maju kembali ke medan
pertempuran. Dalam keadaan susah dan payah seperti ini, ia merasa
sedikit ragu di dalam hatinya karena hampir tidak ada semangat dan
kekuataan lagi untuk berperang. Tetapi, keraguan tersebut hanya
terlintas sebentar saja dalam hatinya. Ia segera berkata pada dirinya
sendiri,
"Wahai hati, apa yang masih kamu ragukan, apa yang
menyebabkan kamu ragu-ragu? Istrikah? Ia sudah saya talak tiga. Atau
hamba sahaya yang kamu miliki? Semuanya telah saya merdekakan. Ataukah
kebun? Itu pun telah saya korbankan di jalan Allah".
Setelah itu, ia membaca syair berikut:
"Wahai hati, kamu harus turun Meskipun dengan senang hati, ataupun
dengan berat hati Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama.
Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes air mani
Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam Apakah kamu
tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti,
akhirnya kamu akan mati juga".
Setelah itu, ia turun dari
kudanya. Seorang sepupunya, yaitu anak pamannya, telah memberi sekerat
daging kepadanya sambil berkata, "Makanlah ini untuk meluruskan tulang
punggungmu." Karena sudah berhari-hari ia tidak makan, maka daging
tersebut diterimanya. Baru saja ia mengambil daging tersebut,
terdengarlah suara kekalahan. Akhirnya, dilemparkanlah daging tersebut.
Ia segera mengambil pedangnya dan menyerbu ke kancah pertempuran melawan
orang-orang kafir. Ia terus bertempur hingga mati syahid.
Kisah Kehidupan para Sahabat
Kitab Fadhail 'Amal
Kelahiran dan perkembangannya:
Abu Ubaidah bin Jarah ra. lahir di
Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy terhormat. Nama lengkapnya
adalah Amir bin Abdullah bin Jarah yang dijuluki dengan Abu Ubaidah. Abu
Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, berwibawa,
bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang
berani ketika dalam kesulitan, dia disenangi oleh semua orang yang
melihatnya, siapa yang mengikutinya akan merasa tenang.
Masuk Islam dari sejak dini:
Abu
Ubaidah termasuk orang yang masuk Islam dari sejak dini, dia memeluk
Islam satu hari setelah Abu Bakar sidik r.a. memeluk Islam. Dia masuk
Islam bersama Abdurrahman bin Auf, Usman bin Mazun dan Arqom bin Abil
Arqom di tangan Abu Bakar Sidik. Abu Bakar lah yang membawakan mereka
menemui Rasulullah saw. untuk menyatakan syahadat di depan beliau.
Abu
Ubaidah sempat mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah saw. Dia
lah yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang
Badar, sehingga ayat Alquran turun mengenai dia seperti tertera dalam
suarah Al Mujadilah ayat 22.
Artinya, "Engkau tidak menemukan
kaum yang beriman kepada Allah dan hari kiamat yang mengasihi
orang-orang yang menentang Allah swt. dan Rasulullah, walaupun orang
tersebut ayah kandung, anak, saudara atau keluarganya sendiri. Allah
telah mematri keimanan di dalam hati mereka dan Dia bekali pula dengan
semangat. Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya
mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal di dalamnya. Akan menyenangi
mereka, di pihak lain mereka pun senang dengan Allah. Mereka itulah
perajurit Allah, ketahuilah bahwa perajurit Allah pasti akan sukses.
(Al-Mujadilah, 22)
Gagah dan Jujur:
Rasulullah saw.
menjulukinya dengan seorang yang "Gagah dan Jujur". Suatu ketika datang
sebuah delegasi dari kaum Kristen menemui Rasulullah saw. Mereka
mengatakan, "Ya Ayah Kasim! Kirimkanlah bersama kami seorang sahabatmu
yang engkau percayai untuk menyelesaikan perkara kebendaan yang sedang
kami pertengkarkan, karena kaum muslimin di pandangan kami adalah orang
yang disenangi." Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, "Datanglah ke
sini nanti sore, saya akan kirimkan bersama kamu seorang yang 'gagah dan
jujur'."
Dalam kaitan ini, Umar bin Khatab r.a. mengatakan,
"Saya berangkat mau salat Zuhur agak cepat, sama sekali bukan karena
ingin ditunjuk sebagai delegasi, tetapi karena memang saya senang pergi
salat cepat-cepat. Setelah Rasulullah selesai mengimami salat Zuhur
bersama kami, beliau melihat ke kiri dan ke kanan. Saya sengaja
meninggikan kepala saya agar beliau melihat saya, namun beliau masih
terus membalik-balik pandangannya kepada kami. Akhirnya beliau melihat
Abu Ubaidah bin Jarah, lalu beliau memanggilnya sambil bersabada,
'Pergilah bersama mereka, selesaikanlah kasus yang menjadi perselisihan
di antara mereka dengan adil.' Lalu Abu Ubaidah pun berangkat bersama
mereka."
Sikapnya Dalam Peristiwa Saqifah:
Sepeninggal
Rasulullah saw. Umar bin Khatab r.a. mengatakan kepada Abu Ubaidah bin
Jarah di hari Saqifah, "Ulurkan tanganmu! Agar saya baiat kamu, karena
saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Sungguh di setiap kaum
terdapat orang jang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah
Abu Ubaidah.' Lalu Abu Ubaidah menjawab, 'Saya tidak mungkin berani
mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah saw. menjadi imam kita
di waktu salat, oleh sebab itu kita seyogianya membuatnya jadi imam
sepeninggal Rasulullah saw.
Jihadnya:
Abu Ubaidah bin Jarah
r.a. ikut partisipasi dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu
mempunyai andil besar dalam setiap peperangan tersebut. Dia berangkat
membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah dia berhasil
menaklukkan semua negeri tersebut.
Ketika wabah penyakit Taun
merajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Khatab r.a. mengirim surat
untuk memanggil kembali Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menyatakan
keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah
yang berbunyi, "Hai Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu, kalau kamu
memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di
tengah-tengah serdadu muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri
sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah
dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya
dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah saya
dibebaskan dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini."
Setelah Umar r.a. membaca surat itu, dia menangis, sehingga para hadirin
bertanya, "Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?" Umar menjawabnya,
"Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu."
Biografinya:
Sepeninggal
Abu Ubaidah r.a. Muaz bin Jabal berpidato di hadapan kaum muslimin yang
berisi, "Hai sekalian kaum muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan
berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan
ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka
terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua
orang dari dia. Oleh sebab itu kasihanilah dia, semoga kamu akan
dikasihani Allah."
Wafatnya:
Menjelang kematian Abu Ubaidah
r.a. dia memesankan kepada serdadunya sbb., "Saya pesankan kepada kalian
sebuah pesan, jika kalian terima, kalian akan baik, 'Dirikanlah salat,
bayar zakat, puasalah bulan Ramadan, berdermalah, tunaikan ibadah haji
dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat
kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian
terpesona dengan keduniaan, karena betapapun seorang melakukan seribu
upaya, dia pasti akan menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh
Allah telah menetapkan kematian untuk setiap pribadi manusia, oleh sebab
itu semua mereka pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah
orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk
akhirat...Assalamu alaikum warahmatullah'."
Kemudian beliau melihat
kepada Muaz bin Jabal r.a. dan mengatakan, "Ya Muaz! Imamilah salat
mereka." Setelah itu, Abu Ubaidah r.a. pun menghembuskan nafasnya yang
terakhir.
Perang Badar terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun setelah hijrah. Ini
adalah peperangan pertama yang mana kaum Muslim (Muslimin) mendapat
kemenangan terhadap kaum Kafir dan merupakan peperangan yang sangat
terkenal karena beberapa kejadian yang ajaib terjadi dalam peperangan
tersebut. Rasulullah Shallalaahu 'alayhi wa sallam telah memberikan
semangat kepada Muslimin untuk menghadang khafilah suku Quraish yang
akan kembali ke Mekkah dari Syam. Muslimin keluar dengan 300 lebih
tentara tidak ada niat untuk menghadapi khafilah dagang yang hanya
terdiri dari 40 lelaki, tidak berniat untuk menyerang tetapi hanya untuk
menunjuk kekuatan terhadap mereka. Khafilah dagang itu lolos, tetapi
Abu Sufyan telah menghantar pesan kepada kaumnya suku Quraish untuk
datang dan menyelamatkannya. Kaum Quraish maju dengan pasukan besar yang
terdiri dari 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700
ekor unta, dan persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari.
Kafir
Quraish ingin menjadikan peperangan ini sebagai kemenangan bagi mereka
yang akan meletakkan rasa takut di dalam hati seluruh kaum bangsa Arab.
Mereka hendak menghancurkan Muslimin dan mendapatkan keagungan dan
kehebatan. Banyangkan, pasukan Muslimin dengan jumlah tentara yang kecil
(termasuk 2 ekor kuda), keluar dengan niat mereka hanya untuk
menghadang 40 lelaki yang tidak bersenjata akan tetapi harus menghadapi
pasukan yang dipersiapkan dengan baik -3 kali- dari jumlah mereka.
Rasulullah SAW dengan mudah meminta mereka Muslimin untuk perang dan
mereka tidak akan menolak, akan tetapi, beliau SAW ingin menekankan
kepada pengikutnya bahwa mereka harus mempertahankan keyakinan dan
keimanan dan untuk menjadi pelajaran bagi kita. Beliau SAW mengumpulkan
para sahabatnya untuk mengadakan musyawarah. Banyak di antara sahabat
Muhajirin yang memberikan usulan, dengan menggunakan kata-kata yang baik
untuk menerangkan dedikasi mereka. Tetapi ada seorang sahabat yaitu
Miqdad bin Al-Aswad ra., dia berdiri dihadapan mereka yang masih merasa
takut dan berkata kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah
(SAW)!, Kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan
oleh bani Israel kepada Musa (AS), 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu, kami
duduk (menunggu) di sini'( Dalam surah Al-Maidah). Pergilah bersama
dengan keberkahan Allah dan kami akan bersama dengan mu !".
Rasulullah
SAW merasa sangat suka, akan tetapi Rasulullah hanya diam, beliau
menunggu dan beberapa orang dari sahabat dapat mengetahui keinginan
Beliau SAW. Sejauh ini hanya sahabat Muhajirin yang telah menyatakan
kesungguhan mereka, akan tetapi Beliau menuggu para sahabat Anshor yang
sebagian besar tidak hadir dalam baiat 'Aqaabah untuk turut serta dalam
berperang melawan kekuatan musuh bersama-sama Rasulullah SAW di luar
kawasan mereka. Maka, pemimpin besar sahabat Anshor, Sa'ad bin Muadh
angkat bicara, "Ya Rasulullah (SAW) mungkin yang engkau maksudkan adalah
kami". Rasulullah SAW menyetujuinya. S'ad kemudian menyampaikan
pidatonya yang sangat indah yang mana dia berkata,
"Wahai
utusan Allah, kami telah mempercayai bahwa engkau berkata benar, Kami
telah memberikan kepadamu kesetiaan kami untuk mendengar dan thaat
kepadamu... Demi ALlah, Dia yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika
engkau memasuki laut, kami akan ikut memasukinya bersamamu dan tidaka
ada seorangpun dari kami yang akan tertinggal di belakang...
Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan kepadamu yang mana tindakan kami
akan menyukakan mu. Maka Majulah bersama-sama kami, letakkan kepercayaan
kami di dalam keberkahan Allah".
Rasulullah sangat menyukai apa
yang disampaikan dan kemudian beluai bersabda, "Majulah ke depan dan
yakinlah yang Allah telah menjajikan kepadaku satu dari keduanya
(khafilah dagang atau perang), dan demi Allah, seolah olah aku telah
dapat melihat pasukan musuh terbaring kalah". Pasukan Muslimin bergerak
maju dan kemudian berhenti sejenak di tempat yang berdekatan dengan
Badar (tempat paling dekat ke Madinah yang berada di utara Mekkah).
Seorang sahabat bernama, Al-Hubab bin Mundhir ra., bertanya kepada
Rasulullah SAW, " Apakah ALlah mewahyukan kepadamu untuk memilih tempat
ini atau ianya strategi perang hasil keputusan musyawarah?". Rasulullah
SAW bersabda, "Ini adalah hasil strategi perang dan keputusan
musyawarah". Maka Al-Hubab telah mengusulkan kembali kepada Rasulullah
SAW agar pasukan Muslimin sebaiknya bermarkas lebih ke selatan tempat
yang paling dekat dengan sumber air, kemudian membuat kolam persediaan
air untuk mereka dan menghancurkan sumber air yang lain sehingga dapat
menghalang orang kafir Quraish dari mendapatkan air. Rasulullah SAW
menyetujui usulan tersebut dan melaksanakannya [*]. Kemudian Sa'ad bin
Muadh mengusulkan untuk membangun benteng untuk Rasulullah SAW untuk
melindungi beliau dan sebagai markas bagi pasukan Muslimin. Rasulullah
SAW dan Abu Bakar ra. tinggal di dalam benteng sementara Sa'ad bin Muadh
dan sekumpulan lelaki menjaganya.
Rasulullah SAW telah
menghabiskan sepanjang-panjang malam dengan berdoa dan beribadah
walaupun beliau SAWmengetahui bahwa Allah ta'ala telah menjanjikannya
kemenangan. Ianya melebihi cintanya dan penghambaannya dan
penyerahandiri kepada Allah ta'ala dengan ibadah yang Beliau SAW
kerjakan. Dan ianya telah dikatakan sebagai bentuk tertinggi dari ibadah
yang dikenal sebagai 'ainul yaqiin.
Kezuhudan Abu Bakar
Ahmad mengeluarkan dari Aisyah r.ha, dia berkata,
"Abu Bakar meninggal dunia tanpa meninggalkan satu dinar maupun satu
dirham pun. Sebelum itu dia masih memilikinya, namun kemudian dia
mengambilnya dan menyerahkannya ke Baitul-mal." Begitulah yang
disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3/132.
Kezuhudan Umar bin Al-Khaththab
Ahmad
mengeluarkan di dalam Az-Zuhud, Ibnu Jarir dan Abu Nu'aim dari
Al-Hasan, dia berkata, "Ketika Umar bin Al-Khaththab sudah menjadi
khalifah, di kain mantelnya ada dua belas tambalan. Begitulah yang
disebutkan di dalam Al-Kanzu, 4/405.
Kezuhudan Utsman bin Affan
Abu
Nu'aiin mengeluarkan di dalam Al-Hilyah, 1/60, dari Abdul-Malik bin
Syaddad, dia berkata, "Aku pernah melihat Utsman bin Affan berkhutbab di
atas mimbar pada hari Jum'at, sambil mengenakan kain mantel yang tebal
(kasar), harganya berkisar empat atau lima dirham. Kain ikat kepalanya
juga ada yang robek. Diriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata, "Aku
pernah melihat Utsman bin Affan yang datang ke masjid dalam keadaan
seperti itu, pada saat dia sudah menjadi khalifah." Ahmad mengeluarkan
di dalam Shifatush-Shafwah, 1/116.
Kezuhudan Ali Bin Abu Thalib
Ahmad
mengeluarkan dari Abdullah bin Ruzain, dia berkata, "Aku pernah masuk
ke rumah Ali bin Abu Thalib pada hari Idul-Adhha. Dia menyuguhkan daging
angsa kepadaku. Aku berkata, "Semoga Allah mlimpahkan kebaikan
kepadamu. Karena engkau bisa menyuguhkan makanan ini, berarti Allah
memang telah melimpahkan kebaikan kepadamu, " Dia berkata, "Wahai Ibnu
Ruzain, aku pernah mendengar Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, 'Tidak diperkenankan harta Allah bagi seorang khalifah kecuali
sebanyak dua takaran saja, satu takaran yang dia makan bersama
keluarganya, dan satu takaran lagi yang harus dia berikan kepada
orang-orang." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 8/3.
Kezuhudan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah
Abu
Nu'airn mengeluarkan dari Abu Ma'mar, bahwa tatkala Umar mengadakan
lawatan ke Syam, maka disambut para pemuka dan pemimpin masyarakat di
sana. "Mana saudaraku?" tanya Umar. "Siapa yang engkau maksudkan?' tanya
orang-orang. "Abu Ubaidah. " "Sekarang dia baru menuju ke sini. Ketika
Abu Ubaidah sudah tiba, Umar turun dari kendaraannya lalu memeluknya.
Kemudian Umar masuk ke rumah Abu Ubaidah dan tidak melihat perkakas apa
pun kecuali pedang, perisai dan kudanya. Ahmad mengeluarkan hadits yang
serupa seperti yang disebutkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/143.
Ibnul-Mubarak juga meriwayatkannya di dalam Az-Zuhd, dari jalan Ma'mar,
serupa dengan ini, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/253.
Kezuhudan Mush'ab bin Umair
Al-Bukhary
mengeluarkan di dalam Shahih-nya, dari Hibban, bahwa Mush'ab bin Umair
meninggal dan hanya meninggalkan selembar kain. Jika orang-orang
menutupkan kain itu ke kepalanya, maka kedua kakinya menyembul, dan jika
ditutupkan ke kedua kakinya, maka kepalanya yang menyembul. Lalu
Rasulullah SAW bersabda, "tutupkan dedaunan ke bagian kakinya."
Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 3/421.
Kezuhudan Salman Al-Farisy
Abu
Nu'aim mengeluarkan dari Athiyah bin Amir, dia berkata, "Aku pernah
melihat Salman Al-Farisy ra. menolak makanan yang disuguhkan kepadanya,
lalu dia berkata, "Tidak, tldak. Karena aku pemah mendengar Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
'Sesungguhnya orang yang lebih
sering kenyang di dunia akan lebih lama laparnya di akhirat. Wahai
Salman, dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin dan surga orang kafir'.
Di
dalam Al-Hilyah, 1/198, Bagian terakhir dari hadits di atas, "Dunia ini
hanyalah penjara orang Mukmin", merupakan riwayat Muslim.
Kezuhudan Abu Dzarr Al-Ghifary
Ahmad
mengeluarkan dari Abu Asma', bahwa dia pernah masuk ke rumah Abu Dzarr
di Rabadzah. Dia mempunyai seorang istri berkulit hitam yang sama sekali
tidak memakai hiasan macam apa pun dan tidak pula mengenakan minyak
wangi. Abu Dzarr berkata, "Apakah kalian tidak rnelihat apa yang disuruh
para wanita berkulit hitam ini? Mereka menyuruhku unluk pergi ke Irak.
Namun ketika kami tiba di Irak, mereka justru lebih senang kepada dunia.
Padahal kekasihku (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam)
memberitahukan kepadaku bahwa di atas jembatan neraka ada rintangan dan
halangannya. Kita akan menyeberangi jembatan itu sambil membawa beban
kita. Maka lebih baik bagiku untuk menyeberang dengan selamat tanpa
mernbawa beban apa pun." Begitulah yang disebutkan di dalain At-Targhib
Wat-Tarhib, 3/93. Ahmad juga meriwayatkannya dan rawi-rawinya shahih.
Kezuhudan Abud-Darda'
Ath-Thabrany
mengeluarkan dari Abud-Darda' Radhiyallahu Anhu, dia berkata, 'Dahulu
sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi rasul, kami adalah
para pedagang. Namun setelah beliau diutus sebagai rasul, aku ingin
terjun kembali dalam perniagaan dan sekaligus rajin beribadah. Tapi
nyatanya aku tidak bisa mantap dalam ibadah. Akhirnya kutinggalkan
perniagaan dan mengkhususkan diri dalam ibadah.' Menurut Al-Haitsainy,
9/367, rijalnya shahih.
Kezuhudan Al-Lajlaj Al-Ghathafany
Ath-Thabrany
mengeluarkan dengan isnad yang tidak diragukan, dari Al-Lajlaj
Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Sejak aku masuk Islam di hadapan
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku tidak pernah makan dan
minum kecuali sekedar secukupnya." Begitulah yang disebutkan di dalarn
At-Targhib, 31423. Abul-Abbas As-Siraj di dalam Tarikh-nya dan
Al-Khathib di dalam Al-Muttafaq, seperti yang disebutkan di dalam
Al-Ishabah, 2/328.
Kezuhudan Abdullah bin Umar
Abul-Abbas
As-Siraj mengeluarkan di dalam Tarikh-nya dengan sanad hasan, dari
As-Sary, dia berkata, "Aku pernah melihat sekumpulan orang dari kalangan
shahabat, bahwa tak seorang pun di antara mereka yang keadaannya
senantiasa mirip dengan keadaan Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam
selain dari Ibnu Umar. "Abu Sa'id Al-Mraby mengeluarkan dengan sanad
yang shahih, dari Jabir ra., dia berkata, 'Tidak ada seseorang di antara
kami yang mendapatkan kekayaan dunia melainkan dia justru
meninggalkannya selain dari Abdullah bin Umar.' Begitulah yang
disebutkan di dalam Al-Ishabah, 21347.
Menurut Al-Waqidi dan lainnya, mereka berkata: Satu peristiwa, pada
pertempuran Yarmuk, keluarlah dari barisan musuh seorang panglima besar
musyrik, lalu dia menyeru Khalid bin Al-Walid untuk keluar dari barisan
kaum Muslimin. Khalid pun keluar dengan kuda tangkasnya, hingga
hampir-hampir kedua kuda itu berlaga kerana ketangkasannya. Maka
berkatalah panglima pasukan musyrik itu yang bernama Jarjah:
"Engkaukah yang dikenal Khalid, panglima pasukan ini?".
"Ya, aku Khalid pedang Allah!" jawab Khalid.
"Khalid, pedang Allah?" tanya Jarjah lagi.
"Ya", jawab Khalid. "Dan engkau siapa?"
"Aku Jarjah, panglima perang!"
"Apa maksudmu memanggil aku ke sini?" tanya Khalid.
"Hai Khalid! Bicaralah yang benar, dan jangan berdusta! Sebab orang
yang merdeka itu tidak berdusta. Dan jangan pula engkau menipuku, kerana
orang yang berkedudukan seperti engkau ini tidak akan menipu yang lain,
apa lagi bila hal itu ada pertaliannya dengan Allah!" jarjah ingin
menguji kejujuran Khalid.
"Baiklah", jawab Khalid. "Aku akan berkata benar dan menjawab sesuai dengan kehendakmu!"
"Engkau mengaku diri sebagai pedang Allah, bukan?" tanya Jarjah.
"Ya", jawab Khalid pendek
"Apakah Allah telah menurunkan pedang itu dari langit kepada Utusan
kamu, lalu dia menyerahkan pedang itu kepadamu, dan engkau tidak akan
menghunuskan kepada sesiapa pun, melainkan engkau akan mengalahkannya?"
Jarjah meminta penerangan dari Khalid.
"Tidak!" jawab Khalid pendek lagi.
"Oh, tidak?!" Jarjah mengejek. "Jadi bagaimana engkau dipanggil
sebagai pedang Allah? Bukankah itu ajaib sekali?!" Jarjah menambah lagi.
"Tidak ajaib, jika engkau mendengar cerita yang sebenarnya!" jawab Khalid.
"Kalau begitu ceritakanlah kepadaku!" pinta Jarjah.
"Sekarang dengarlah ceritanya: Sesungguhnya Allah telah mengutus
kepada kita UtusanNya, lalu Beliau mengajak kami memeluk Islam, tetapi
kami menjauhkan diri darinya, dan kami sekalian menyingkirkannya.
Meskipun begitu ada juga setengah dari kami yang mempercayainya dan
mengikutnya, manakala yang lain mendustakannya dan menentangnya, dan
jika engkau ingin tahu aku adalah di antara orang-orang yang
mendustakannya dan menentangnya", Khalid menceritakan dirinya dengan
jujur.
"Sesudah itu?" tanya Jarjah yang mendengar dengan penuh minat.
"Kemudian Allah telah melembutkan hati kami, dan membukakan
pemikiran kami, lalu kami diberiNya petunjuk untuk memeluk Islam, dan
kami pun memberikan kesetiaan kami kepadanya", Khalid berdiam sebentar
mengenang dirinya di masa lalu.
"Kemudian, apa yang berlaku?" tanya Jarjah lagl
'Kerana aku memeluk Islam itulah, maka beliau berkata kepadaku: Hai
Khalid! Engkau ini adalah pedang dari pedang-pedang Allah, yang
dihunuskan Allah ke atas kaum musyrik, dan beliau mendoakan bagiku
dengan kemenangan!" jelas Khalid.
"Sebab itulah engkau dikenal dengan pedang Allah?!" tanya Jarjah.
"Ya, aku rasakan itu, dan aku orang yang paling keras di antara pasukan Islam ke atas kaum musyrik", 'jelas Khalid lagi.
"Baiklah", tanya Jarjah. "Engkau membawa pasukanmu ke sini itu, untuk apa?"
Aku datang ke sini untuk menyeru orang-orang seperti kamu kepada Islam, dan mempercayai Tuhan yang Satu!" jawab Khalid.
"Tuhan yang Satu?" tanya Jarjah.
"Ya, dengan menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan
bahwasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah, serta meyakini bahwa apa
yang dibawa Muhammad itu adalah dari Allah yang Maha Mulia", terang
Khalid.
"Kalau kami tidak mahu menerimanya?"
"Bayar upeti, dan kami akan melindungi kamu!"
"Kalau kami tidak mahu membayar upeti itu?"
"Kami akan memerangi kamu habis-habisan!"
"Baiklah, apa kedudukan orang yang mengikut seruanmu itu, dan yang mendampingkan diri dalam apa yang engkau seru itu?"
'Kedudukannya dengan kami sama tentang apa yang difardhukan Allah ke
atas kami sekalian, baik dia orang berpangkat atau orang yang rendah,
yang pertama memeluk Islam dan yang kebelakangan! Yakni siapa yang
mengikut Muhammad sekarang ini akan memperoleh pahala yang sama dengan
siapa yang telah mengikutnya lama sebelum ini, iaitu balasannya dan
kelebihannya?!"
"Bagaimana itu?" Jarjah meminta penjelasan.
"Ya", jawab Khalid, "bahkan boleh jadi lebih utama lagi".
"Bagaimana sampai begitu? Bagaimana agamamu menyamakan orang-orang
ini dengan kamu, padahal kamu sudah mendahului mereka?" tanya Jarjah.
"Mudah saja!" jawab Khalid. "Kita orang-orang yang terdahulu memeluk
Islam secara terpaksa, kerana kita telah menentangnya sebelum itu.
Kemudian kita memberikan kesetiaan kami kepadanya sedang dia hidup di
sisi kita, berita-berita langit sedang turun kepadanya, dia memberitahu
kita tentang firman-firman Allah itu serta dibuktikannya dengan
keterangan-keterangan yang tidak dapat diragukannya lagi", kata Khalid.
"Jadi, apa alasannya?" tanya Jarjah lagi.
"Jadi orang-orang seperti kita ini sudah melihat semua bukti-bukti
itu, dan kami mendengar sendiri darinya, sudah seharusnyalah kami
mengikutnya dan menganut kepercayaannya. Tetapi kamu tidak seperti kami,
kamu tidak melihat apa yang kami lihat, dan kamu tidak mendengar
seperti apa yang kami dengar dan berbagai keajaiban dan bukti-bukti yang
membenarkan seruan dan dakwaannya. Jadi barangsiapa yang mengikut
perkara ini di antara kamu dengan kebenaran dan niat yang baik, tentulah
dia lebih utama dari kami".
Jarjah terharu dengan penerangan
Khalid itu, lalu dia berkata: "Demi Allah, aku yakin engkau telah
mengatakan yang benar, dan engkau tidak menipuku!"
"Demi Allah,
aku telah berkata yang benar, tiada suatu pun yang aku sembunyikan, dan
Allah telah membantuku untuk menjawab soalan-soalanmu itu dengan yang
benar", terang Khalid.
"Kalau begitu, apa gunanya lagi aku
menyandang perisai ini", kata Jarjah, dia lalu melepaskannya, sambil
memeluk Khalid dan berkata: "Hai Khalid! Ajarkanlah aku agama Islam
itu!" pinta Jarjah.
Khalid Ialu mengajak Jarjah datang ke
kemahnya, lalu disiramkan ke atasnya dengan qirbah air (kulit kambing
yang dibuat untuk mengisi air), kemudian diajaknya Jarjah bersembahyang
dengannya dua rakaat.
Akhirnya pasukan Romawi kecewa apabila
Jarjah tidak kembali lagi kepada mereka. Lalu mereka memulai
penyerangannya kepada pasukan Islam, dan pada mulanya mereka merasa
bangga dengan kemenangan kecil di mana mereka dapat mematahkan
sayap-sayap pasukan Islam, kecuali yang sedang dipertahankan oleh
lkrimah bin Abu jahal ra. dan Al-Harits bin Hisyam ra. Khalid bin Walid
ra. pun keluar ke medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan Islam,
dan keluar bersamanya Jarjah yang baru memeluk Islam. Keduanya pun
memimpin pasukan Islam di tengah-tengah pasukan Romawi yang mencoba
mengepung pasukan Islam. pasukan Islam pun berteriak semangat dan
menggempur di belakang panglimanya, si pedang Allah, sehingga akhirnya
pasukan Romawi tidak mampu bertahan lagi, dan mereka pun mundur
kebarisan mereka yang asal. Khalid terus berjuang pedang dengan pedang
bersama-sama pasukan Islam yang telah kembali semangat perjuangannya,
sedang Jarjah turut berjuang sebelah-menyebelah dengan pasukan Islam
dari sejak tengahari hingga matahari akan terbenam, dan masuk waktu
maghrib. pasukan Islam bersembahyang shalat Dzhuhur dan Asar secara
menunduk-nunduk saja kerana hebatnya pertarungan yang berlaku di antara
dua pihak itu. Akhimya Jarjah, moga-moga Allah merahmatinya, gugur
syahid setelah mendapat luka-luka berat, dan dia tidak bersembahyang
kepada Allah selain dua rakaat yang dikerjakannya dengan Khalid ra.
ketika dia memeluk Islam itu.
(Al-Bidayah Wan-Nibayah 7:12 -
Menurut Abu Nu'aim dalam "Dalaa'ilun Nubuwah", nama panglima Romawi itu
ialah jarjir bukan jarjah.)
Ibnu Sa'd mengeluarkan dari Aisyah, bahwa Abu Bakar adalah seorang
pedagang, yang setiap hari pergi ke pasar untuk melakukan jual beli. Dia
mempunyai sekumpulan domba yang dia urus sendiri dan terkadang
menggembalakannya atau dia serahkan kepada orang lain. Dia juga memerah
air susunya untuk diberikan kepada orang-orang kampung. Ketika dia sudah
dibaiat sebagai khalifah, ada seorang gadis perempuan yang berkata,
"Tentunya
sekarang dia tidak mau lagi memerah air susu untuk diberikan kepada
kami". Abu Bakar ra. sempat mendengar perkataan gadis itu. Maka dia
berkata, 'Aku bersumpah untuk tetap memerah air susu bagi kalian, dan
aku berharap agar tugasku yang baru ini tidak merubah kebiasaanku yang
lalu.'
Maka dia tetap memerah susu seperti biasanya dan diberikan
kepada mereka. Namun kemudian dia perlu mempertimbangkan lagi
tugas-tugasnya sebagai khalifah. Maka dia berkata,
"Tidak demi Allah,
urusan berdagang bisa mengganggu tugas-tugas ini, dan tugas ini tidak
bisa berjalan lancar kecuali jika aku memusatkan perhatian terhadap
urusan manusia. Tidak selayaknya aku hanya menyibukkan diri dengan
urusan keluargaku."
Maka dia pun meninggalkan usaha dagangnya.
Untuk
keperluan diri dan keluarga dia mengambil gaji dari Baitul-mal milik
umat, sekedar untuk mencukupi keperluannya setiap hari, juga untuk
keperluan haji dan umrah. Gajinya untuk satu tahun sebanyak enam ribu
dirham. Menjelang kematiannya, dia berkata,
"Kembalikan sisa gaji
yang ada di tangan kita ke Baitul-mal milik orang-orang Muslim, karena
aku tidak ingin mengambil sedikit pun dari harta tersebut. Tanahku yang
ada di tempat ini dan itu juga bagi orang-orang Muslim."
Dia
menyerahkan kepada Umar seekor unta yang air susunya biasa diperah,
seorang budak dan selembar permadani seharga lima dirham. Umar sempat
berkata,
"Dia menyebabkan kesusahan kepada khalifah sesudahnya."
Imam Ahmad telah memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayah Sa'ad
sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Makkah
dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahwa ayahku telah menceritakan
kepadaku, bahwa Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar ra. telah
singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar ra. ingin melihat puterinya
yang kecil sedang disusukan di kampung kami dan Rasulullah SAW pula
inginkan jalan pendek ke Madinah. Berkata Sa'ad kepada Rasulullah SAW:
"jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam,
dikenal orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin
melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah SAW menjawab:
"Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!". Berkata Sa'ad
seterusnya: "Kami pun berjalan melalui Rakubah itu, dan apabila kami
dilihat oleh dua orang perompak itu, salah seorang mereka berkata kepada
temannya: "Ini orang dari Yaman, barangkali!". Apabila kita bertemu dua
orang perompak itu, Rasulullah SAW pun menyeru mereka supaya masuk
Islam, dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya.
Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu
berdua?" tanya Rasuluilah SAW "Nama kami?". Mereka tersenyum."orang
panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana perbuatan kami
yang jahat". "Tidak", jawab Rasuluilah SAW. "Tapi sekarang kamu berdua
dipanggil sebagai dua orang yang dimuliakan, kerana telah dimuliakan
oleh Islam. Kami sekarang hendak menuju Madinah. Nanti temui kami di
Madinah!" Rasulullah SAW berpesan kepada mereka berdua.
(Musnad Ahmad 4:74; Majma'uz-Zawa'id 6:58)
Pohon Menjadi Saksi Pengislaman seorang Badui
Abu
Abdullah An-Naisaburi (Hakim) telah memberitakan pula dari Ibnu Umar
ra. katanya: Semasa kami bersama dengan Rasulullah SAW dalam suatu
perjalanan, tiba-tiba kami ditemui oleh seorang Arab badui. Apabila kami
berhampiran dengan badui itu, berkata Rasulullah SAW kepadanya: "Hendak
ke mana, wahai teman?!". "Hendak kembali ke kampungku",jawab badui itu.
"Mahukah engkau jika aku tunjukkanmu kepada yang baik?". "Apa itu?",
tanya si badui. "Engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah saja,
yang Esa, tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad itu adalah hambanya
dan UtusanNya",jawab Rasulullah SAW. "Siapa yang menjadi saksi atas apa
yang engkau katakan itu?", tanya badui itu. "Engkau mahukan saksi?
Engkau tak percaya kepadaku?!". "Ya, kerana aku tak kenal padamu!",
jawab badui itu. "Baiklah", jawab Rasulullah SAW lagi. "Cukupkah jika
pohon itu menjadi saksi?!", sambil beliau menunjuk kepada sebatang pohon
yang berdekatan dengan karni. "Pohon menjadi saksi?", mata badui itu
terbelalak, dia tertawa. Maka Rasulullah SAW pun memanggil pohon yang
tumbuh di lereng lembah bukit itu supaya datang. Lalu pohon itu pun
datang menyeret dirinya satu-satu hingga berdiri di hadapan badui itu.
Dan beliau meminta kepadanya supaya menyaksikan bahwa apa yang dikatakan
beliau itu adalah benar dan betul. Pohon itu lalu bersaksi dengan
jelas, kemudian dia kembali semula ke tempatnya di lereng bukit itu.
Orang badui itu terperanjat, dan tidak terkata-kata lagi. Kami juga
merasa heran, namun begitu kami tahu yang berlaku itu adalah tanda
mukjizat Rasulullah SAW. "Kalau begitu, aku percaya kepadamu!", jawab
badui itu. Dia pun kembali ke kampungnya, sambil berkata, "Nanti, jika
kaumku mengikutku, akan aku bawa mereka semua kepadamu". "Kalau tidak?".
"Kalau tidak, aku sajalah yang akan datang kepadamu, dan duduk
denganmu!"
(Al-Bidayah Wan-Nihayah 6:125; Majma'uz-Zawa'id 8:292)
Islamnya Buraidah bin Hasib ra.
Dan
dari riwayat Ashim Al-Aslami yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa'ad katanya:
Apabila Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau singgah di sebuah
kampung bernama Chamim. Beliau bertemu dengan Buraidah bin Hashib lalu
ia diajak Rasulullah SAW untuk memeluk Islam. Buraidah memeluk Islam
bersama-sama dengan penduduk kampungnya, dan jumlah mereka sangat ramai,
semuanya datang dari kurang lebih 80 rumah. Beliau bermalam di kampung
itu, dan bersembahyang Isya' sedang penghuni kampung itu mengikutnya di
belakang.
(Tabaqat Ibnu Sa'ad 4:242)
Ketika Khadijah rha. menemui suaminya Baginda Muhammad SAW. Ia (Khadijah
rha) baru saja pulang dari rumah Waraqah. Ia menanyakan tentang
tanda-tanda kenabian yang ada pada suaminya, pada saat itu lah
Rasulullah SAW menerima wahyu ke-dua awal surah Al-Mudatsir. Rasulullah
SAW kemudian berkata kepada istrinya "Tidak ada waktu lagi untuk
istirahat... Jibril AS telah menyampaikan perintah Allah SWT kepadaku
agar aku menjumpai setiap orang untuk mengajaknya kepada Islam, wahai
istriku siapakah orang yang akan mengikutiku". "Aku ya Rasulullah, aku
mengimani bahwa Allah SWT tiada tuhan selain Dia dan engkau adalah
Rasulullah" Jawab Khadijah rha.
Demikianlah awal pengorbanan
mereka yang tiada berhenti sehingga segala keperluan diri
dikebelakangkan hanya untuk kemuliaan Islam. Hingga di akhir hayatnya
Rasululah SAW ketika ditemani oleh Jibril AS yang datang untuk
menghiburnya, Beliau SAW bertanya "bagaimana keadaan ummatku
sepeninggalanku?". Keadaan ummatnya saja yang terfikir hingga akhir
hayatnya.
Menjelang akhir hayatnya Rasulullah SAW mengirim satu
jema'ah besar keluar kota Madinah dipimpin seorang panglima yang masih
sangat muda, anak dari seorang bekas budak hamba sahaya yang kemudian
menjadi anak angkat Beliau, Usamah bin Zaid r.ahuma. Belum sampai ke
tujuan Jema'ah tersebut mendapat berita tentang wafatnya Baginda
Rasulullah SAW. Akhirnya diputuskan jema'ah tersebut kembali ke Madinah.
Di
Madinatul Munawwarah keadaan pun sedikit kacau, karena begitu sedih dan
bingung banyak dari sahabat r.anhum yang tidak tahu harus berbuat apa
pada saat itu. Umar ra. menghunuskan pedang berkeliling Madinah sambil
berkata tidak mungkin Rasulullah SAW wafat, Utsman ra. hanya diam tidak
tahu berbuat apa.. Sehingalah Abu Bakar ra., setelah menjenguk jasad
Baginda SAW, tampil ke depan menenangkan.
Singkat cerita...
Usaha
da'wah terhenti sebentar (dalam satu riwayat 7 hari), jema'ah yang
dipimpin Usamah ra. belum diberangkatkan. Apa yang terjadi? Alim ulama
menerangkan ketika da'wah terhenti sebentar ada 3 perkara besar terjadi:
1. Diangkatnya ketakutan dari hati orang kafir terhadap orang Islam
2. Banyak orang kembali murtad dan sebagian tidak mau lagi membayar zakat.
3. Munculnya Nabi palsu, Musailamah al Kahzab.
Tentara
Romawi dan sekutu-sekutunya mengirim suatu kekuatan besar untuk membumi
hanguskan Madinah dan seluruh orang Islam. Abu Bakar ra. memutuskan
untuk segera mengirim kembali jema'ah yang sempat tertunda untuk
menghadapi tentara kafir dengan tetap dipimpin oleh Usamah ra. Ada
sebagian sahabat yang merasa keberatan dan ingin agar Usamah ra. dapat
diganti dengan sahabat yang lebih berpengalaman tapi Abu Bakar ra.
berkata,
"Belum lama jasad Rasulullah SAW dikebumikan, sekarang kalian hendak mengubah satu Sunnahnya"!
Jema'ah
tersebut tetap dipimpin oleh Usamah bin Zaid r.anhuma. Semua sahabat
yang tidak ada uzur diperintahkan untuk menyertai jema'ah tersebut.
Amirul Mukminin, Abu Bakar ra. meminta kesediaan Usamah ra. untuk
membolehkan beberapa sahabat tetap tinggal di Madinah untuk tugas-tugas
lain. Khalid bin Walid ra. ditugaskan memimpin 500 orang untuk
menghancurkan Musailamah al Kahzab, Umar ra. ditugaskan memimpin 50
orang untuk menhadapi mereka yang tidak mau membayar zakat. Sehingga
tinggallah di kota Madinah orang-orang tua dan Abu Bakar ra. sebagai
Amirul Maukminin untuk mengendalikan keadaan di Madinah. Seorang sahabat
lagi bertanya kepada Abu Bakar ra. berkata "Wahai Amirul mukminin kalau
semua kita menyertai jema'ah ini bagaimana keadaan kota Madinah yang di
dalamnya ada Ummahatul mukminiin, istri-istri Rasulullah SAW". Abu
Bakar ra berkata,
"Aku lebih rela istri-istri nabi
diserang musuh dan bangkainya dicabik-cabik serigala daripada agama dan
usaha agama ini terhenti".
Akhirnya Jema'ah tersebut
diberangkatkan dengan dilepas sendiri oleh Amirul Mukminin Abu Bakar ra.
Di Madinah, semua sahabat yang uzur diperintahkan untuk membuat 'amalan
masjid. Mengisinya dengan Da'wah menjumpai orang-orang di Madinah yang
keyakinannya goyah atau telah keluar dari Islam untuk dapat kembali
kepada Islam. Mereka kemudian diajak ke Masjid Nabawi untuk duduk di
dalam majelis dan dibangkitkan semangatnya kembali serta memperbanyak
'amal ibadah dan berdo'a memohon bantuan Allah SWT. Sebagaian lagi
diberi tugas untuk melayani tamu-tamu yang datang dan menyiapkan segala
keperluan jema'ah masjid.
Dari usaha dan kerja di Masjid Nabawi
tersebut alim ulama menerangkan terbentuk beberapa jema'ah da'wah yang
dikirim ke kawasan yang berdekatan dengan Madinah, menjumpai setiap
orang yang berada di kabilah terdekat untuk kembali kepada Islam dan
Iman. Sehingga di dalam suatu riwayat selama tiga hari-tiga malam di
kota Madinah tidak terdengar suara adzan.
Kembali kepada Jema'ah
yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid ra. Selama perjalanan untuk
menghadapi tentara kafir mereka telah berhenti beberapa kali. Alim ulama
menerangkan bahwa Usamah ra. telah memerintahkan jema'ah tersebut untuk
berhenti dan membongkar segala perlengkapan dan memasang tenda dan
berbagai keperluan lainnya. Ketika semua telah selesai, ia, Usamah ra.
memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Semua sahabat r.ahum tha'at.
Mereka segera membongkar tenda mengumpulkan segala perbekalan dan
sebagainya. Di tempat yang lain Usamah ra. memberikan perintah yang sama
sehingga beberapa kali jema'ah tersebut membongkar memasang dan
membongkar lagi perbekalan serta tenda mereka.
Alim ulama
menerangkan bahwa walaupun pada zhahirnya terlihat seperti tidak teratur
dan tidak terorganisir akan tetapi dengan ketha'atan kepada Amir dan
bergeraknya mereka tersebut fii sabilillaah. Allah SWT telah tanamkan
kembali di dalam hati musuh Islam ketakutan terhadap ummat Islam.
Tentara Romawi dan sekutunya menjumpai bekas-bekas perkemahan dan
barang-barang perbekalan sahabat r.ahum dapat menghitung berapa kekuatan
pasukan Muslimin. Di tempat yang lain mereka menjumpai tanda-tanda
bahwa di tempat itu juga sepasukan yang besar pernah berkemah. Sehingga
akhirnya tentara musuh Islam tersebut berkesimpulan kalau dengan jumlah
sahabat r.ahum sedemikian besar yang berada di luar Madinah maka pasti
jumlah yang lebih besar lagi ada di dalam Madinah. Dan mereka memutuskan
untuk mundur karena mereka yakin mereka tidak akan menang menghadapi
orang Islam. Begitu juga Musailamah al Kahzab dan pengikutnya beserta
benteng di Yamamah yang telah didirikannya akhirnya dapat di hancurkan.
Tiga
perkara besar yang terjadi akibat usaha da'wah terhenti sebentar
akhirnya dapat dikembalikan. Orang-orang kembali kepada Islam dan mau
membayar zakat, Allah SWT tanamkan kembali ketakutan di dalam hati musuh
Islam dan Allah SWT hancurkan nabi palsu.
Ibnu Abi Syaibah, Abu Ubaidah, An-Nasa'y, Abu Ya'la, Al-Baihaqy dan Ibnu
Hibban mentakhrij dari Umar bin Al-Khaththab ra., dia berkata,
"Aku
berwasiat kepada khalifah sesudahku agar mengetahui hak orang-orang
Muhajirin golongan yang pertama dan agar menjaga kehormatan mereka. Aku
juga berwasiat kepadanya untuk memperhatikan orang-orang Anshar yang
telah menyediakan tempat tinggal dan beriman sejak sebelum kedatangan
orang-orang Muhajirin, hendaklah dia menerima kebaikan mereka dan
memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
Aku juga berwasiat
kepadanya untuk berbuat baik kepada penduduk berbagai kota, karena
mereka merupakan penolong bagi Islam, penyokong dana dan penghadang
musuh. Janganlah dia mengambil harta pun dari mereka kecuali harta yang
berlebih dan menurut kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar dia
berbuat baik kepada orang-orang badui, karena mereka meruipakan asal
mula bangsa Arab dan sumber Islam. Dia harus mengambil shadaqah dari
orang-orang yang kaya dan membagikannya kepada orang-orang yang miskin.
Aku
juga berwasiat kepadanya agar memenuhi hak Ahli Dzhimmi seperti yang
ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan perjanjian dengan mereka.
Dia boleh memerangi orang-orang selain mereka, dan tidak membebankan
kepada mereka kecuali menurut kesanggupan mereka."
Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Muntakhab, 4:439.
Ibnu Asakir mengeluarkan dari Salim bin Abdullah bin Umar, dia berkata,
"Ketika Abu Bakar menghadapi ajalnya, maka dia menulis wasiat, yang
isinya:
'Bismillahir-rahmanir-rahim. Ini adalah surat wasiat dari
Abu Bakar pada akhir hayatnya di dunia, yang bersiap-siap hendak keluar
dari dunia, yang merupakan awal masanya menuju ke akhirat dan yang
bersiap-siap untuk memasuki akhirat, yang pada saat-saat seperti inilah
orang kafir mau beriman, orang durhaka mau bertakwa dan pendusta mau
menjadi jujur, aku telah memilih pengganti sesudahku, yaitu Umar bin
Al-Khaththab. Kalau dia berbuat adil, maka memang itulah yang kuharapkan
darinya. Namun jika dia semena-mena dan berubah, maka kebaikanlah yang
kuinginkan dan aku tidak mengetahui yang gaib. Adapun orang-orang yang
berbuat aniaya akan mengetahui di mana mereka akan dibalikkan.'
Begitulah
yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3:146. Ibnul-Mubarak, Ibnu Abi
Syaibah, Ibnu Jarir dan Abu Nu'aim meneluarkan dari Abdurrahman bin
Sabith, dia berkata, Sebelum ajal tiba, Abu Bakar memanggil Umar, lalu
dia berkata kepadanya,
"Wahai Umar, bertakwalah kepada Allah, dan
ketahuilah bahwa Allah telah menetapkan amalan yang harus dikerjakan
pada siang hari, dan Dia tidak menerimanya jika dikerjakan malam hari,
dan Allah telah menetapkan amalan yang harus dikeriakan pada malam hari,
dan Dia tidak menerimanya jika dikerjakan pada siang hari. Sesungguhnya
Allah juga tidak nienerima yang sunat sebelum yang wajib dikerjakan."
Begitulah
yang disebutkan di dalarn Al-Kanzu, 4:363. Ibnu Sa'd mentakhrij dari
AI-Muththalib bin As-Sa'ib bin Abu Wada'ah Radhiyallahu Anhu, dia
berkata, "Abu Bakar menulis surat kepada Arw bin Al-Ash, yang isinya:
'Aku sudah menulis surat kepada Khalid bin AI-Walid agar dia bergabung
ke pasukanmu dan mernbantumu. Jika dia sudah datang, inaka hergaullah
yang baik, jangan merasa lebih tinggi darinya, jangan memutuskan perkara
sendirian karena engkau merasa lebih tinggi darinya dan dari yang lain,
berrnusyawarahlah dan janganlah berselisih dengan mereka. Begitulah
yang disebutkan di dalam AI-Kanzu, 31133.
Abu Nu'aim mengeluarkan dari Khalid bin Ma'dan, dia berkata, "Umar bin
Al-Kbaththab ra. mengangkat Sa'id bin Amir bin Huzaim ra. sebagai amir
kami di Himsh. Ketika Umar datang ke sana, dia bertanya, "Wahai penduduk
Himsh, apa pendapat kalian tentang Sa'id bin Amir, amir kalian?" Maka
banyak orang yang mengadu kepada Umar ra. Mereka berkata, "Kami
mengadukan empat perkara. Yang pertama karena dia selalu keluar rumah
untuk menemui kami setelah hari sudah siang.' Umar ra. berkomentar, "Itu
yang paling besar. Lalu apa lagi?' Mereka menjawab, "Dia tidak mau
menemui seseorang jika malam hari." "Itu urusan yang cukup besar,"
komentar Umar ra. Lalu dia bertanya, "Lalu apa lagi?" Mereka menjawab,
"Sehari dalam satu bulan dia tidak keluar dari rumahnya untuk menemui
kami." "Itu urusan yang cukup besar," komentar Umar ra. Lalu dia
bertanya, "Lain apa lagi?" Mereka menjawab, "Beberapa hari ini dia
seperti orang yang akan meninggal dunia."
Kemudian Umar bin
Al-Khaththab ra. mengkonfirmasi di antara Sa'id bin Amir ra. dan
orang-orang yang mengadukan beberapa masalah tersebut. Saat itu Umar ra.
berkata kepada dirinya sendiri, "Ya Allah, jangan sampai anggapanku
tentang dirinya keliru pada hari ini." Lalu dia bertanya kepada
orang-orang yang mengadu, "Sekarang sampaikan apa yang kalian keluhkan
tentang diri Sa'id bin Amir ra.!'
"Dia selalu keluar rumah untuk
menemui kami setelah hari sudah siang,' kata mereka. Sa'id menanggapi,
"Demi Allah, sebenamya aku tidak suka untuk mengungkapkan hal ini. Harap
diketahui, keluargaku tidak mempunyai pembantu, sehingga aku sendiri
yang harus menggiling adonan roti. Aku duduk sebentar hingga adonan itu
menjadi lumat, lalu membuat roti, mengambil wudhu', baru kemudian aku
keluar rumah untuk menemui mereka."
Umar bertanya kepada mereka,
"Apa keluhan kalian yang lain?" Mereka menjawab, 'Dia tidak mau menemui
seorangpun pada malam hari." 'Lalu apa alibimu?' tanya Umar ra. kepada
Sa'id bin Amir ra. "Sebenarnya aku tidak suka untuk mengungkapkan hal
ini. Aku menjadikan siang hari bagi mereka, dan menjadikan malam hari
bagi Allah."
"Apa keluhan kalian yang lain?" tanya Umar kepada
mereka. Mereka menjawab, "Sehari dalam satu bulan dia tidak mau keluar
dari rumahnya untuk menemui kami." "Apa alibimu? tanya Umar ra. kepada
Said ra. "Aku tidak mempunyai seorang pembantu yang mencuci pakaianku,
di samping itu, aku pun tidak mempunyai pakaian pengganti yang lain."
Maksudnya, hari itu dia mencuci pakaian satu-satunya.
"Apa
keluhan kalian yang lain?" tanya Umar kepada mereka. Mereka menjawab,
"Beberapa hari ini dia seperti orang yang akan meninggal dunia." "Apa
alibimu?" tanya Umar ra. kepada Sa'id ra. Sa'id ra. menjawab,
"Dulu
aku menyaksikan terbunuhnya Hubaib Al-Anshary di Makkah. Aku lihat
bagaimana orang-orang Quraish mengiris-iris kulit dan daging Hubaib ra.
lalu mereka membawa tubuhnya ke tiang gantungan. Orang-orang Quraisy itu
bertanya kepada Hubaib, 'Sukakah engkau jika Muhammad menggantikan
dirimu saat ini?' Hubaib menjawab, 'Demi Allah, sekalipun aku berada di
tengah keluarga dan anak-anakku, aku tidak ingin Muhamrnad Shallallahu
Alaihi wa Sallam terkena duri sekalipun'. Kemudian dia berseru, 'Hai
Muhammad, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi pada hari itu'.
Sementara
saat itu aku yang masih musyrik dan belum beriman kepada Allah Yang
Maha Agung, tidak berusaha untuk menolongnya, sehingga aku beranggapan
bahwa Allah ta'ala sama sekali tidak akan mengampuni dosaku. Karena
itulah barangkali keadaanku akhir-akhir ini seperti orang yang akan
meninggal dunia."
Umar bin Al-Khaththab ra. berkata, "Segala puji
bagi Allah, karena firasatku tentang dirinya tidak meleset." Setelah
itu Umar memberinya seribu dinar, seraya berkata, "Pergunakanlah uang
ini untak menunjang tugas-tugasmu." Istri Sa'id ra. berkata kegirangan
setelah menerima uang itu, 'Segala puji bagi Allah yang telah memberikan
kecukupan kepada kita atas tugas yang engkau emban ini." Sa'id bertanya
kepada istrinya, "Apakah engkau mau yang lebih baik lagi? Kita akan
memberikan uang ini kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada
kita. "Boleh," jawab istrinya. Lalu Sa'id memanggil salah seorang
anggota keluarganya yang dapat dipercaya, dan dia memasukkan uang ke
dalam beberapa bungkusan, seraya berkata, "Bawalah bungkusan ini dan
berikan kepada janda keluarga Fulan, orang miskin keluarga Fulan, orang
yang terkena musibah keluarga Fulan. Selebihnya disimpan, Istrinya
bertanya, "Mengapa engkau tidak membeli seorang pembantu? Lalu untuk apa
sisa uang itu?" Sa'id ra. menjawab, "Sewaktu-waktu tentu akan datang
orang yang lebih membutuhkan uang itu.
(Al-Hilyah, 1:245)
Abul-Malih meriwayatkan, bahwa tatkala Abu Bakar Radhiyallahu'anhu
hendak meninggal dunia, dia mengirim utusan kepada Umar bin Al-Khatab
ra, untuk menyampaikan,
"Sesungguhnya aku menyampaikan wasiat
kepadamu, dan engkau harus menerimanya dariku, bahwa Allah Azza wa Jalla
mempunyai hak pada malam hari yang tidak diterima-Nya pada siang hari,
dan Allah mempunyai hak pada siang hari yang tidak diterima-Nya pada
malam hari.
Sesungguhnya Dia tidak menerima nafilah (sunat)
sebelum yang wajib dilaksanakan. Orang-orang yang timbangannya berat di
akhirat menjadi berat, karena mereka mengikuti kebenaran di dunia,
sehingga timbangan mereka pun menjadi berat. Sudah selayaknya timbangan
yang diatasnya diletakkan kebenaran menjadi berat.
Orang-orang
yang timbangannya ringan di akhirat menjadi ringan, Karena mereka
mengikuti kebatilan, sehingga timbangan mereka pun ringan pula di dunia.
Sudah selayaknya timbangan yang di atasnya diletakkan kebatilan menjadi
ringan, Apakah engkau tidak melihat bahwa Allah menurunkan ayat yang
ada harapan di dalam ayat yang ada kepedihan, dan ayat yang ada
kepedihan di dalam ayat yang ada harapan? Hal ini dimaksudkan agar
manusia takut dan sekaligus berharap, tidak menyeret dirinya kepada
kebinasaan dan tidak berharap kepada Allah secara tidak benar.
Jika
engkau menjaga wasiatku ini, maka tidak ada sesuatu yang tidak tampak
namun paling engkau sukai selain dari kematian, dan memang begitulah
seharusnya. Jika engkau menyia-nyiakan wasiatku ini, maka tidak ada
sesuatu yang tidak tampak namun paling engkau benci selain kematian, dan
memang begitulah seharusnya yang engkau lakukan. Engkau tentu mampu
melakukannya".
Ada yang menuturkan, bahwa sebelum ajal
menghampiri Abu Bakar Ash-Shidiq ra, Aisyah rha putri beliau menemuinya
lalu melantunkan syair,
"Tiada artinya harta kekayaan bagi pemuda
Jika sekarat menghampiri dan menyesakkan dada".
Abu Bakar ra. menyingkap kain yang menutupi kepalanya, lalu dia berkata, "Bukan begitu. Tetapi ucapkan firman Allah,"
"Dan, datanglah sekaratul-maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya". (QS. Qaf:19)
Lalu
dia berkata lagi. "Periksalah dua lembar pakaianku ini, cucilah ia dan
kafanilah jasadku dengan kain ini. Sesungguhnya orang yang masih hidup
lebih memerlukan kain yang baru daripada orang yang sudah meninggal".
Ibnu Qudamah, Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Pustaka Al-Kautsar, 1997, hal 499-500
Apabila berhasil mengalahkan pihak musih dengan izin Allah, maka
panglima pasukan muslimin perlu mengatur barisan pejuang-pejuangnya
mengikuti kedudukan. Dia hendaklah berdiri dihadapan pasukannya degan
keadaan membelakangi mereka lalu memuji dan bersyukur kepada Allah
ta'ala serta berdo'a:
"Wahai
Allah! Segala puji untukMu, tidak ada sesiapa yang dapat mengubah apa
yang telah Engkau tetapkan, dan tiada sesiapa dapat menetapkan apa yang
ingin Engkau ubah. Tidak ada yang mendapat petunjuk apabila Dikau
memberi kesesatan, dan tidak ada siapa yang boleh disesatkan manakala
Engkau memberi petunjuk kepada mereka. Dan tidak ada siapa yang dapat
memberi jika Engkau yang mengha- langnya, dan tidak ada yang dapat
menghalang jika Engkau yang memberi. Tidak ada sesiapa yang dapat
mendekati jika Engkau menahannya, dan tidak ada yang dapat menahan jika
Engkau ingin menurunkannya.
Wahai Allah! Berilah kepada kami
dengan mencurah-mencurah keberkatanMu, rahmat, belas kasihan dan rezeki
daripadaMu. Wahai Allah! Aku memohon kepadaMu akan belas kasihan (
rahmat) yang berkekalan tidak kufur atau habis.
Wahai Allah! Aku
memohon kepadaMu akan kesejahteraan pada Hari Penuh Ketakutan. Wahai
Allah! Aku memohon perlindunganMu daripada kejahatan-kejahatan yang ada
padaku dan yang tidak padaku.
"Wahai Allah! Berilah kami untuk
mencintai kebenaran dan penuhilah hati kami dengannya, dan jadikan kami
benci, kepada kekufuran, akhlak yang rosak, dan dosa-dosa serta
golongkan kami ke dalam orang-orang yang soleh.
Wahai Allah! Matikanlah kami di dalam Islam dan satukan kami dengan orang-orang soleh agar kami tidak diuji dan dihina.
Wahai
Allah! Hancurkanlah orang-orang kafir yang mendustakan RasulMu dan
menghalang orang lain kepada jalanMu, azablah mereka dengan azabMu yang
perih lagi menyiksa. Wahai Tuhan yang Haq. Aamin
(Al-Hisnul Hasin)
Dari Abu Ayyub ra. "Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. maka
Beliau tinggal di rumah Abu Ayyub ra. Rasulullah SAW tinggal di bagian
bawah sedangkan Abu Ayyub di bagian atas rumah. Ketika malam tiba. Abu
Ayyub tersadar bahwa ia tinggal di atas Nabi SAW berarti dirinya berada
di antara Rasulullah SAW dan wahyu. Hal itu membuat ia susah untuk
tidur. la pun khawatir jikalau ia menggerakkan kakinya dapat merontohkan
debu-debu sehingga menyusahkan Nabi SAW.
Ketika pagi hari tiba maka
ia berkata kepada Nabi SAW "Wahai Rasulullah, saya baru tersadar bahwa
saya berada diatasmu Dan engkau berada di bawahku. sehingga saya takut
bergerak yang menyebabkan jatuhnya debu-debu kepadamu Dan saya pun
berada di antara engkau dan wahyu." Jawab Nabi SAW, "Wahai Abu Ayyub
jangan kamu berlebihan, maukah aku ajarkan kepadamu suatu ucapan yang
jika kamu mengucapkannya setiap pagi dan sore, sebanyak sepuluh kali.
maka Allah akan memberikan sepuluh kebaikan. menghapuskan sepuluh dosa
dan mengangkatmu sepuluh derajat dan kelak padi hari Kiamat engkau akan
digolongkan sebagai seorang yang telah mcmbebaskan sepuluh budak. Ucapan
itu ialah:
Laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syarikalahu ...
(Thabrani, Kanzul Ummal, 1/294)
Dari
Abu Ayyub katanya,"Ketika beliau tinggal di rumahku maka aku berkata
kepadanya, "Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya daku merasa tidak enak
jika tinggal di atasmu dan engkau berada di bawahku." Rasulullah SAW
bersabda, "Sesungguhnya lebih mudah bagi kami untuk tinggal di bawah
saja, agar memudahkan kami ketika menerima tamu." (Thabrani)
Suatu
ketika tempat airku pecah maka airnya tumpah ke lantai. maka aku
bersama istriku (Ummu Ayyub) segera mengeringkanya dengan kain milik
kami padahal kami tidak memiliki lagi selimut lain kecuali itu. dengan
perasaan takut dan khawatir air tersebut akan mengenai beliau dan
menyusahkannva. Dan setiap hari kami menghidangkan makanan bagi
Rasulullah SAW dan jika ada sisa dari makanan tersebut maka kami makan
pada bagian bekas-bekas tangan Rasulullah SAW agar kami mendapat berkat
dengan hal itu.
Pada suatu malam ketika kami hidangkan makan malam.
kami bubuhkan di dalam masakan tersebut bawang. Beliau mengembalikannya
kepada kami. Dan kami melihat tidak ada sedikit pun bekas tangan beliau.
Maka hal ini kami ceritakan kepada Rasulullah SAW, mengenai makanan
kami dan apa sebab beliau tidak mau menyentuh makanan kami sedikit pun
Kata Beliau, "Aku dapatkan pada makanan ini bau bawang putih, di
karenakan aku adalah seorang lelaki vang senantiasa berdzikir kepada
Allah. maka aku tidak senang bila mulutku tercium bau yang tidak enak.
Sedangkan untuk kalian maka silahkan kalian memakannya."
(Kanzul Ummal. 5/50)
Umar ra. telah melantik Atbah bin Ghazwan sebagai panglima perang
pasukan Muslimin di dalam peperangan melawan Parsi. Pada ketika itu
beliau telah memberikan perintah.
"Senantiasalah menjaga
ketaqwaan sedapat-dapatnya. Berhati-hatilah menjalankan keadilan apabila
memberi keputusan. Kerjakan sholat pada waktu yang ditentukan dan
berzikirlah memuji Allah sebanyak-banyaknya dan selalu".
Satu
ketika terdapat seorang tawanan Romawi di dalam penjagaan orang-orang
Islam. Terjadi satu keadaan dimana dia telah dapat meloloskan diri dan
lari. Raja Heraklius bertanya kepadanya mengenai keadaan orang-orang
Islam dengan mendalamnya supaya seluruh kehidupan mereka nampak jelas
dihadapannya. tawanan ini juga melaporkan perkara yang sama dan
menerangkan bahwa orang-orang itu adalah ahli ibadat diwaktu malam dan
kesatria (da'i) disiang harinya. Orang-orang Islam itu juga tidak
mengambil sesuatu walaupun daripada Dhimmi (orang-orang kafir yang
dibawah lindungan mereka) tanpa membayar harganya dan apabila mereka
berjumpa, mereka memberi dan menjawab salam. Heraklius menjawab dengan
cepat dan tajam bahwasanya jikalau laporan itu benar dan tepat, maka
mereka akan menjadi raja-raja bagi kerajaan Heraklius.
Heraklius
mempunyai jumlah tentera yang sangat banyak sedangkan jumlah orang-orang
Islam sangat terbatas. Amr bin al-'As ra. memberitahu Abu Bakar Siddiq
ra. mengenai keadaan tersebut. Sebagai jawabannya Abu Bakar ra. menulis:
"Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah
yang kecil. Kamu pasti dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang
banyak melebihi jumlah musuh jikalau kamu terlibat didalam dosa-dosa".
Al-Baihaqy
mentakhrijkan dari jalan Al-Waqidy, dari Abu-Hurairah ra., dia berkata,
"Aku ikut dalam perang Mu'tah. Ketika jarak antara kami dan orang-orang
musyrik semakin dekat, kami bisa melihat jumlah pasukan yang amat
banyak, membawa persenjataan lengkap, tameng, mengenakan pakaian sutra
dan perhiasan emas.
Tsabit bin Arqam ra. berkata saat
melihatku membelalakkan mata, "Wahai Abu Hurairah, sepertinya engkau
sedang melihat pasukan yang besar."
"Benar", jawabku.
Dia berkata, "Engkau tidak bergabung bersama kami di Badr. Kami menang saat itu bukan karena jumlah kami yang banyak".
(Al-Bidayah 4:244, Al-Ishabah 1:190)
Ahmad
bin Marwan bin Maliky di dalam Al-Mujalasah, dari Abu Ishaq, dia
berkata, "Tidak ada musuh yang bertahan lama jika berperang melawan para
sahabat.
Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan
Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, "Beritahukan kepadaku
tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah
mereka manusia seperti kalian?"
Mereka menjawab, "Ya".
"Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?"
"Kamilah yang lebih banyak jumlahnya dimanapun kami saling berhadapan".
"Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?"
Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, "Karena mereka biasa
shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh
kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran dan saling berbuat adil di
antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzina, melakukan
hal-hal yang haram, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena,
menyuruh kepada kebencian, melarang hal-hal yang diridhai Allah dan
berbuat kerusakan di bumi".
Heraklius berkata, "Engkau membuatku percaya".
(Al-Bidayah 7:15, Ibnu Asakir 1:143)
Kecintaan Seorang Sahabat ra.
Dari 'Aisyah r.a katanya, "Ada seorang
lelaki datang kepada Nabi SAW seraya berkata, "Wahai Rasulullah engkau
lebih aku cintai daripada diriku sendiri dan engkau lebih aku cintai
daripada orang tuaku. Jika aku berada di rumah, aku senantiasa
merindukan dan tak sabar untuk secepatnya dapat bertemu dan melihatmu.
dan apabila aku teringat kematianku dan kematianmu, tetapi aku tahu
engkau kelak dimasukan ke dalam surga, tentunya engkau akan ditempatkan
di surga yang paling tinggi beserta para Nabi. Sedangkan jika aku
dimasukkan ke dalam surga, aku takut jika kelak tidak dapat melihatmu
lagi". Nabi SAW tidak menjawab ucapan orang tersebut sampai Jibril
menurunkan firman Allah,
Artinya: Dan barang siapa mencintai
Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang
dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqiin,
orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan merekalah teman
yang sebaik-baiknva. (An Nisaa': 69)
(Thabrani, Abu Nuaim. Al-Hilyah. 4/240)
Dari
Ibnu Abbas ra. dikatakan ada seorang lelaki datang kepada Nabi seraya
berkata. "Wahai Rasulullah aku sangat mencintaimu dan selalu
mengingatimu. tapi vang aku takutkan jika kelak engkau dimasukkan ke
dalam surga di tingkat yang paling tinggi sedangkan aku dimasukkan di
tempat yang tidak sama denganmu, maka aku takut tidak dapat lagi
melihatinu kelak di akhirat". Rasulullah SAW tidak menjawab ucapan
lelaki itu sampai Allah menurunkan fimian-Nya. Wa man yutiillah war
Raszila fa ulaika ma'al ladzina...(An Nisaa': 69). Setelah itu
Rasulullah SAW membacakan ayat tersebut di hadapan lelaki itu dan
mendoakanya."
(Thabrani, Al-Haitsami. 4/7)
Kecintaan Sa'ad bin Mu'adz ra.
Dari
Abdullah bin Abu Bakar ra., '.Sesungguhnya Sa'ad bin Muadz ra, berkata
kepada Nabi SAW . "Ya Rasulullah. maukah engkau kami buatkan sebuah
benteng dan kami siapkan di sisimu sebuah kendaraan. Kemudian kami maju
berhadapan dengan musuh, jika kami diberi kemenangan oleh Allah maka
itulah yang kami harapkan. tapi jika terjadi sebaliknya, maka engkau
dapat segera pergi dengan kendaraan ini. menemui pasukan kita yang masih
ada di belakang kita. sebab di belakang kami tertinggal sejuklah kaum
yang sangat mencintaimu. Sungguh andaikata mereka tahu bahwa engkau akan
berperang pasti mereka akan ikut semuanya. Akan tetapi di karenakan
mereka tidak tahu bahwa engkau akan menemui pasukan musuh seperti ini.
maka tidaklah heran jika sebagian orang tidak ikut bersama engkau."Maka
Rasullah SAW menyatakan terimakasihnya dan mendoakan kebaikan baginva,
kemudian mereka membangunkan sebuah benteng bagi Nabi
(Ibnu Ishaq, Al-Bidayah 3/268)